Bahasa Bali Alus Mulai Tergerus?

Foto cover: Radar Buleleng
Penulis kontributor: I Made Jaya Wiguna
Penyunting: I Made Indra Cipta Widhiastra

Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri 
Pramoedya Ananta Toer 

Menilik kutipan dari tokoh bangsa Pramoedya Ananta Toer, bahasa menjadi salah satu identitas penting dari suatu bangsa. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa menjadi sebuah ciri khas yang melekat bagi sekumpulan masyarakat yang menggunakannnya. Bahasa tidak akan pernah lepas dari identitas dan fungsionalitasnya dalam interaksi tiap individu dari suatu bangsa.  

Bahasa Bali, merupakan bahasa yang sangat umum dituturkan di Pulau Dewata, Bali. Bahasa Bali juga menjadi salah satu bahasa yang cukup populer secara internasional, disebabkan dari pengaruh Pulau Bali sebagai destinasi wisata utama dunia.  

Bahasa Bali merupakan bahasa daerah yang memiliki tata bahasa yang cukup kompleks. Bahasa yang masih serumpun dengan Bahasa Jawa ini memiliki karakteristik yang cukup autentik dari segi filosofi makna maupun fungsionalitasnya dalam masyarakat. Selain identitas, Bahasa Bali juga menjadi penghubung antara strata sosial masyarakat yang kental akan hierarki kelas-kelas sosial yang telah ada sejak lama. Perbedaan kelas sosial ini menjadi faktor penting dalam perkembangan tata Bahasa Bali secara menyeluruh. Selain itu, tuntutan akan etika dan moral juga menjadi penyebab berkembangnya tata bahasa Bali menjadi lebih kompleks. 

Di Bali, ada istilah “Anggah Ungguhing Basa Bali” yang membagi Bahasa Bali menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan penggunaanya dalam kelas sosial di masyarakat. Adapun tingkatan Bahasa Bali tersebut sesuai dengan fungsinya, yaitu Basa Alus, Basa Madya, Basa Andap, dan Basa Kasar.

Basa Alus dibagi menjadi empat; Alus Singgih, bahasa yang digunakan untuk berbicara dengan orang yang sangat dihormati, seperti pendeta, raja, atau orang yang sangat berkuasa; Alus Sor, bahasa yang digunakan untuk merendahkan diri saat berbicara dengan orang yang statusnya lebih tinggi atau patut dihormati; Alus Mider, bahasa yang digunakan sebagai bahasa yang lebih formal dari Basa Andap dan lebih rendah dari Basa Alus Singgih; dan Alus Madya, bahasa yang digunakan sebagai bahasa yang memiliki nilai rasa halus namun terasa lebih rendah sedikit akibat unsur pembentuknya yang masih ada Kruna Alus Madya. 

Basa Madya adalah bahasa yang kedengarannya seperti bahasa halus, tetapi makna dan nilai rasanya masih menengah karena banyak dibentuk oleh kata-kata Basa Alus MadyaBasa Andap, bahasa yang digunakan untuk status sosial yang sama/sehari-hari. Lalu Basa Kasar, bahasa yang umumnya digunakan pada saat bertengkar/menghina.

Aturan ini menjadi acuan utama dalam interaksi masyarakat Bali sehari-hari. Orang tua dahulu mengajarkan pada anak-anaknya agar menggunakan bahasa yang halus ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Dalam “Anggah Ungguhing Basa Bali”, Basa Alus menjadi tata bahasa yang digunakan pada konteks tersebut. Begitupun ketika terjadi interaksi antara masyarakat dengan kasta atau kelas sosial yang berbeda. Kecakapan penggunaan bahasa di sini menjadi sebuah keterampilan yang hendaknya harus dimiliki, terutama oleh kaum remaja atau Para Yowana Bali. Di lain sisi, perubahan zaman turut menjadi penyebab perubahan penggunaan tata bahasa sehari-hari masyarakat Bali.

Lomba Tri Sandya dan nyurat aksara Bali. Sumber: balibercerita.com

Fenomena yang sedang terjadi hari ini adalah berkurangnya kecakapan remaja Bali dalam keterampilan penggunaan Basa Alus. Berdasarkan jurnal dari Wayan Arissusila berjudul “Degradasi Penggunaan Bahasa Bali di Kota Denpasar.” Kesulitan dalam berbahasa Bali dialami para remaja Hindu di Kota Denpasar, sebenarnya tidak terletak pada kerumitan atau spesifikasi pola gramatikal bahasa Bali itu sendiri, akan tetapi ditentukan oleh kurangnya minat dan latihan berbahasa Bali. Hal ini terjadi bukan tanpa sebab, ada banyak faktor yang menjadi penyebab menurunnya penggunaan bahasa Bali oleh para remaja di daerah perkotaan. Pengaruh globalisasi dan percepatan informasi di daerah perkotaan turut ambil andil dalam perubahan pola bahasa masyarakatnya. Itulah yang terjadi pada remaja kota Denpasar saat ini. Mereka cenderung lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asing yang relevan dengan lingkungan pergaulan mereka. Sebenarnya tidak ada masalah pada hal tersebut bukan? Namun yang dikhawatirkan adalah semakin tergerusnya bahasa Bali yang menjadi identitas mereka.

Dengan adanya artikel ini, diharapkan dapat menjadi pengingat untuk seluruh masyarakat, bahwasanya jangan sampai perkembangan zaman memudarkan identitas diri sebagai masyarakat yang memiliki karakter kuat dalam menjaga tradisi, budaya, dan adat yang ada di Bali. Jika bukan masyarakat Bali, khususnya para yowana yang giat melestarikan adat, bahasa dan budaya Bali, siapa lagi 

Ngiring ajegang Basa Bali Alus, mangda nenten kanti pupus. Suksma.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *