Foto cover: Sawidji Studio
Press Release: Sawidji Studio
Penyunting: I Made Indra Cipta Widhiastra
Bali, Indonesia — Di tengah arus global yang semakin mengubah spiritualitas dan seni menjadi komoditas, sosok Apel Hendrawan tampil sebagai representasi nyata dari kejujuran, ketangguhan, dan otentisitas kreatif yang mengakar dalam. Memperingati lima dekade hidupnya, ia menyajikan sebuah pameran tunggal retrospektif, “50 Tahun, Sebuah Perjalanan”. Pameran ini lebih dari sekadar pameran seni dan peluncuran buku, ini adalah penyingkapan perjalanan batin yang telah melalui gelapnya jurang hidup, menemukan terang, dan menyuarakan kebenaran yang dibentuk oleh pengalaman hidup yang intens.
Sebagai seniman lintas bidang, mulai dari pelukis, seniman tato, aktivis lingkungan, hingga pendeta Hindu Bali. Kisah hidup Apel Hendrawan jauh melampaui sekadar tren atau mode seni. Tumbuh dalam budaya Bali yang kini bergulat dengan tekanan pariwisata dan globalisasi, karya-karyanya menjadi pengingat akan nilai yang abadi, “seni yang tumbuh dari proses panjang, pengalaman pahit, dan pencarian spiritual”.
“Saya tidak pernah membayangkan masa lalunya bisa sekelam itu… Titik balik itu benar-benar merupakan suatu keajaiban,” tulis ManButur Suantara, mengingat kembali masa kelam Apel akibat kecanduan narkoba dan pengasingannya di Rumah Sakit Jiwa Bangli. Namun, fase tersebut bukan menjadi akhir, melainkan pintu menuju transformasi. Dari sana, lahirlah proses penyembuhan yang tulus, terwujud dalam penciptaan karya seni yang mendalam.



Lukisan-lukisan Apel Hendrawan menghadirkan atmosfer yang mengingatkan pada karya Turner, romantis namun penuh gejolak. Ia menggunakan media cat minyak di atas kanvas, sebuah pendekatan yang menantang bagi seniman Bali karena iklim lembap. Ekspresi yang kuat berpadu dengan estetika klasik Eropa, disatukan dengan simbol-simbol sakral Bali, mitologi lokal, abu gunung berapi, dan aksara modre, menghasilkan karya dengan daya spiritual dan emosional yang tinggi.
Dalam ekosistem seni Bali yang semakin dikendalikan oleh pasar dan tren, karya Hendrawan hadir sebagai pengingat akan pentingnya keaslian dan proses. Seni baginya bukan sekadar dekorasi atau komoditas, tetapi sarana penyucian diri. Ia mengekspresikan penderitaan dan transformasi, bayang-bayang dan cahaya, dengan kanvas sebagai cerminan jiwanya.
Sawidji Founder, Dian Dewi Reich, yang juga terlibat dalam proyek ini, menyatakan:
“Di antara banyaknya karya seni yang diciptakan, yang diulang, mengikuti tren, dan dimanjakan oleh pasar, berapa banyak yang benar-benar melewati proses yang berat? Karya Hendrawan berada di luar norma, merupakan perpaduan sejati antara disiplin estetika kontemporer dan spiritualitas Bali yang otentik.”
50 Tahun, Sebuah Perjalanan bukan hanya bentuk perayaan atas hidup, tapi juga momen penting peluncuran buku 50 Years, A Journey. Apel Hendrawan, yang merekam perjalanannya dalam bentuk visual dan narasi. Buku ini memuat refleksi pribadi, tulisan kuratorial, esai budaya, dokumentasi karya, hingga catatan perjalanan spiritual yang mentransformasikan luka menjadi kekuatan. Di tengah hiruk pikuk dunia seni Bali, proyek ini merupakan undangan langka untuk menyaksikan bagaimana penderitaan bisa menjelma menjadi karya seni yang murni.
Pameran ini adalah ajakan untuk kembali pada akar kreativitas yang sejati, yang tidak tergoda kompromi, jujur pada pengalaman, dan menyentuh kedalaman spiritual manusia.

Leave a Reply