Gianyar, Bali — Pada minggu pertama hingga minggu kedua Juli 2026, tim PPK Ormawa Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) Universitas Udayana melaksanakan pendataan dan survei minat serta kesadaran masyarakat terhadap Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Kegiatan dilakukan dengan mengunjungi rumah-rumah masyarakat yang tersebar di 17 banjar sebagai salah satu langkah awal dalam persiapan pelaksanaan program Griya Arogya.
Kegiatan pendataan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) HME Universitas Udayana 2026 melalui program AROGYA: “Revitalisasi Usada Bali dan Tri Hita Karana dalam Pemberdayaan Masyarakat Batuan Menuju Desa Sehat Berkelanjutan.” Program AROGYA dirancang untuk mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan kesehatan preventif, pemanfaatan potensi lokal, pengelolaan lingkungan, serta penerapan teknologi.
Selama pelaksanaan pendataan pada minggu pertama dan kedua Juli 2026, tim pelaksana mendatangi rumah-rumah masyarakat secara langsung untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi awal lingkungan rumah sekaligus memperkenalkan program Griya Arogya kepada warga. Kunjungan tersebut juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berdialog langsung dengan masyarakat mengenai pemanfaatan TOGA serta minat warga terhadap budidaya tanaman obat secara mandiri berbasis rumah tangga.
Dari pendataan yang dilakukan di 17 banjar, sebanyak 214 rumah berhasil didata. Data tersebut menjadi gambaran awal mengenai kondisi pemanfaatan TOGA di lingkungan rumah masyarakat Desa Batuan sekaligus menjadi dasar bagi tim dalam menentukan langkah tindak lanjut program.
160 Rumah Belum Memiliki TOGA
Hasil pendataan menunjukkan bahwa dari 214 rumah yang dikunjungi, 54 rumah telah memiliki TOGA. Namun, sebagian besar rumah tersebut baru membudidayakan sekitar satu hingga dua jenis tanaman obat.
Sementara itu, 160 rumah lainnya belum memiliki TOGA di lingkungan rumahnya. Dengan demikian, sekitar 74,8 persen rumah yang didata belum memiliki TOGA, sedangkan sekitar 25,2 persen telah memiliki setidaknya satu jenis tanaman obat.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan pekarangan rumah untuk budidaya TOGA di Desa Batuan masih memiliki ruang yang cukup besar untuk dikembangkan. Kondisi awal ini menjadi salah satu dasar pelaksanaan Griya Arogya yang mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lingkungan rumah sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan keluarga.
Dalam rancangan PPK Ormawa HME 2026, Griya Arogya diarahkan sebagai bentuk rumah bebas penyakit berbasis konservasi lingkungan. Salah satu pendekatannya dilakukan melalui pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya TOGA secara mandiri.
88,8 Persen Warga Berminat Menerima Bibit TOGA
Selain mendata kondisi rumah, tim juga mengukur minat masyarakat untuk terlibat dalam program budidaya TOGA. Hasilnya menunjukkan adanya respons positif dari sebagian besar masyarakat yang dikunjungi.
Dari 214 kepala keluarga yang didata, sebanyak 190 KK menyatakan berminat apabila mendapatkan hibah bibit TOGA. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 88,8 persen dari keseluruhan rumah yang berhasil didata.
Angka tersebut menjadi salah satu temuan penting dalam pelaksanaan survei. Meskipun masih terdapat 160 rumah yang belum memiliki TOGA, sebagian besar masyarakat menunjukkan keterbukaan untuk mulai membudidayakan tanaman obat apabila mendapatkan dukungan bibit.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang untuk mengembangkan budidaya TOGA berbasis rumah tangga di Desa Batuan. Minat masyarakat yang telah teridentifikasi kemudian akan menjadi salah satu pertimbangan tim dalam menentukan sasaran pemberian bibit dan pendampingan pada tahap berikutnya.
Bibit TOGA tidak diberikan pada saat pelaksanaan survei. Pemberian tiga jenis bibit TOGA akan dilaksanakan pada kegiatan selanjutnya sebagai bentuk tindak lanjut dari hasil pendataan dan sosialisasi yang telah dilakukan.
Memetakan Rumah Menuju Griya Arogya
Pendataan juga dilakukan untuk mengukur sejauh mana rumah-rumah masyarakat telah memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam konsep Griya Arogya.
Dari 214 rumah yang berhasil didata, baru 11 rumah yang memenuhi kriteria Griya Arogya. Hasil tersebut menjadi gambaran kondisi awal yang akan digunakan tim untuk menentukan bentuk pendampingan dan pengembangan program pada tahap selanjutnya.
Griya Arogya tidak hanya menitikberatkan pada keberadaan tanaman obat, tetapi juga diarahkan pada penerapan upaya pencegahan penyakit berbasis konservasi lingkungan di tingkat rumah tangga. Program tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan pendekatan preventif yang diusung AROGYA dalam membangun Desa Sehat.
Dengan adanya pemetaan kondisi rumah, tim dapat mengetahui rumah yang telah memiliki potensi untuk dikembangkan sekaligus mengidentifikasi rumah yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut.
Dari Sosialisasi Menuju Pemberdayaan
Kunjungan dari rumah ke rumah tidak hanya menjadi kegiatan pendataan. Dalam setiap kunjungan, tim juga memperkenalkan program Griya Arogya dan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya pemanfaatan pekarangan untuk mendukung kesehatan keluarga.
Pendekatan secara langsung tersebut memungkinkan mahasiswa untuk berinteraksi dengan masyarakat dalam suasana yang lebih dekat. Warga dapat menyampaikan kondisi lingkungan rumah, pengalaman dalam membudidayakan tanaman, serta harapan mereka terhadap program yang akan dilaksanakan.
Masyarakat menunjukkan antusiasme dalam menerima kunjungan tim PPK Ormawa HME 2026. Warga menyambut baik program yang dibawa mahasiswa dan berharap bibit TOGA yang nantinya diberikan dapat dimanfaatkan serta dikembangkan oleh masyarakat di lingkungan rumah masing-masing.
Respons tersebut menjadi modal penting dalam pelaksanaan Griya Arogya. Sebab, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pemberian bibit, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat dalam menanam, merawat, dan memanfaatkan TOGA secara berkelanjutan.
Data Menjadi Dasar Tindak Lanjut Program
Pendataan terhadap 214 rumah di 17 banjar tersebut selanjutnya akan digunakan sebagai data awal atau baseline dalam pelaksanaan Griya Arogya. Data tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi awal pemanfaatan TOGA, minat masyarakat, serta jumlah rumah yang telah memenuhi kriteria Griya Arogya.
Hasil pendataan juga akan menjadi dasar dalam menentukan sasaran tindak lanjut, termasuk pemberian tiga jenis bibit TOGA dan pendampingan budidaya berbasis rumah tangga.
Langkah tersebut sejalan dengan rancangan PPK Ormawa HME 2026 yang menempatkan peningkatan minat dan kesadaran masyarakat terhadap budidaya serta pengolahan TOGA sebagai salah satu indikator keberhasilan program. Kondisi masyarakat sebelum program akan dibandingkan dengan kondisi setelah program untuk melihat perubahan yang terjadi.
Data yang diperoleh juga memperlihatkan adanya kesenjangan sekaligus peluang. Di satu sisi, sebanyak 160 dari 214 rumah belum memiliki TOGA. Di sisi lain, 190 KK menyatakan berminat menerima bibit apabila diberikan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap program cukup tinggi dan dapat menjadi titik awal untuk mendorong perubahan dari sekadar ketertarikan menjadi praktik budidaya TOGA secara mandiri.
Ke depan, tim PPK Ormawa HME 2026 akan menindaklanjuti hasil pendataan melalui pemberian tiga jenis bibit TOGA serta pendampingan kepada masyarakat. Budidaya tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan menanam, tetapi berkembang menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan keluarga, memperbaiki kualitas lingkungan rumah, serta mengoptimalkan potensi lokal Desa Batuan.
Melalui langkah yang dimulai dari rumah dan melibatkan masyarakat secara langsung, Griya Arogya diharapkan dapat menjadi salah satu fondasi dalam mewujudkan Desa Batuan sebagai desa sehat yang berbasis pada partisipasi masyarakat, pemanfaatan potensi lokal, dan keberlanjutan.


Leave a Reply