Orang Bali Harus Punya Anak Laki-Laki?

“Orang Bali harus memiliki setidaknya satu orang anak laki-laki,” begitulah narasi yang ada di masyarakat Bali. 

Hal ini berdasarkan pada sistem adat dan budaya masyarakat di Bali yang mengarah ke sistem Patriarki. Adat yang patriarki berarti mengusung sistem masyarakat yang memberikan kedudukan dominan kepada laki-laki dalam hal pewarisan, garis keturunan, pengambilan keputusan, dan tanggung jawab adat maupun agama.

Garis keturunan masyarakat Bali diambil dari garis keturunan ayah karena laki-laki dianggap sebagai “Purusa” atau penerus garis darah dan spiritual keluarga. Selain itu, pewarisan harta seperti rumah, tanah dan pura keluarga diwariskan kepada anak laki-laki, sedangkan anak perempuan biasanya tidak mendapatkan warisan adat dikarenakan setelah menikah akan mengikuti keluarga suami.

Di samping hak yang didapat, ada pula kewajiban anak laki-laki dalam bermasyarakat adat dan agama. Laki-laki wajib memelihara pura keluarga, mengadakan upacara adat dan keagamaan. Selain itu, anak laki-laki juga harus melaksanakan kewajibannya dalam masyarakat adat.

Lalu terkait dengan peran perempuan?

Dalam kacamata agama, perempuan disebut sebagai “Pradhana”, unsur pendukung atau pelengkap dari “Purusa” atau laki-laki. Setelah menikah, perempuan dianggap telah “lepas” dari keluarga asalnya. Sehingga dalam hukum adat, perempuan tidak memiliki hak waris terhadap harta material keluarganya.

Meskipun perempuan tidak memegang peranan utama, perempuan tetap memiliki peran penting dalam ritual dan kehidupan rumah tangga masyarakat Bali. Selain itu, mereka juga menjadi tonggak penting dalam pelaksanaan kegiatan adat dan budaya dalam kehidupan adat masyarakat Bali.

Lalu bagaimana menyikapi topik bahasan utama saat ini? Bagaimana pandangan masyarakat Bali terhadap istilah “nak Bali harus ngelah panak muani”.

Postingan @baby_hnybali

Melansir postingan instagram semeton Bali @baby_hnybali yang membahas mengenai pandangan masyarakat terhadap permasalahan ini. Beliau berpendapat bahwa sebenarnya tidak ada yang salah jika hanya memiliki anak perempuan. Yang terpenting bukanlah pada jenis kelamin anak, melainkan bagaimana mereka tumbuh dengan kasih sayang, etika, pendidikan, dan kepedulian terhadap orang tua.

Tidak memiliki anak laki-laki bukan berarti keluarga harus memaksakan diri mengadopsi, menikah lagi, atau melakukan cara-cara lain secara terburu-buru. Solusinya tidak sekaku itu. Hal yang paling utama adalah mensyukuri dan merawat anak yang dimiliki, laki-laki maupun perempuan, karena keduanya memiliki potensi yang sama untuk membahagiakan dan menjaga orang tua.

Ditambah dengan adanya istilah “Ardhanareswari” yang melambangkan wujud kemanunggalan Dewa Siwa dan Dewi Parwati, kesatuan dan keseimbangan antara energi laki-laki (Siwa) dan energi perempuan (Parwati), kesetaraan derajat antara laki-laki dengan perempuan. semestinya menghormati dan mengimplementasikan nilai agama tersebut.

Warisan dan garis keturunan hanyalah sebagian kecil dari makna sebuah keluarga. Selama anak-anak masih peduli dan menyayangi orang tuanya, itulah kebahagiaan sejati. Percaya bahwa Tuhan memberi sesuai yang terbaik dan setiap keluarga tetap bisa bahagia, apapun bentuknya.

 

Foto cover: Foto Ilustrasi dari AI
Penulis kontributor: I Made Jaya Wiguna
Penyunting: I Made Indra Cipta Widhiastra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *