Tidak ada yang lebih jenaka dan layak ditertawakan selain orang-orang yang senang mempertontonkan kebodohannya tanpa menyadari konsekuensinya. Hal ini sudah menjadi kebiasaan, apalagi di zaman media sosial seperti sekarang, ketika yang penting adalah mengunggah terlebih dahulu, urusan akibatnya dipikir nanti.
Gejala penormalan kebodohan ini bersifat universal. Ia tidak hanya melanda orang Indonesia, tetapi juga masyarakat luar negeri. Lihat saja di Bali, bagaimana para turis asing berperilaku konyol: membuat konten tidak bermoral, mulai dari masturbasi di air terjun, menari telanjang di Gunung Batur, memanjat telanjang di pohon kayu manis yang dikeramatkan, hingga menceburkan motor ke laut, dan berbagai tindakan absurd lainnya.
Baik orang luar maupun orang Indonesia yang melakukan tindakan bodoh demi viralitas sebenarnya memiliki motif yang sama, yakni soal konten. Namun sayangnya, konten yang diunggah kerap sudah melewati batas. Sudah menjadi hukum alam, ada sebab pasti ada akibat. Seperti firman Tuhan, “Siapa menabur angin, akan menuai badai.”
Dogma “tangkap, unggah, lalu sebarkan” jika meminjam istilah Yuval Noah Harari, ibarat pisau bermata dua. Semakin canggih media sosial, semakin banyak manusia yang mengunggah tanpa berpikir. Namun mau bagaimana lagi, kehidupan manusia di era media sosial memang telah mengalami kedangkalan eksistensial dan keterpecahan dalam upaya mengejar kebahagiaan.
Marilah sejenak kita menengok alam filsafat. Aristoteles sudah lama menjelaskan bahwa yang dicari manusia dalam hidup tidak jauh dari ketenaran dan kekayaan. Keduanya adalah tujuan antara. Menurut Aristoteles, manusia mengejar dua hal: tujuan antara dan tujuan akhir.
Tujuan akhir adalah kebahagiaan (eudaimonia). Sayangnya, ajaran eudaimonia kini menjadi dangkal karena arus kemudahan di genggaman. Akibatnya, eksistensi dikejar lewat cara-cara instan. “Semua demi konten” menjadi frasa yang akrab di telinga kita. Ujung dari semua ini adalah ketersohoran, terutama di tengah masyarakat yang mulai berbudaya sebagai penonton (spectacle society).
Perihal ketersohoran di era media sosial memang perlu terus dikritisi, setidaknya sebagai pengingat saat kita tergoda untuk ikut-ikutan terjerumus dalam lingkar kebodohan hanya demi memuaskan dogma “semua demi konten.”
Apakah ketersohoran membuat seseorang otomatis bahagia? Apakah ia mampu mencapai tujuan akhir hidupnya? Belum tentu. Bisa iya, bisa tidak. Jika ketersohoran justru mempermalukan dan menjadikannya bahan tertawaan umat manusia, lalu untuk apa dilakukan? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang perlu kita renungkan bersama.
Berpikir kritis-reflektif sembari bertindak bijak seharusnya menjadi formula di tengah era yang dipenuhi informasi berlebih. Kini, semua saling berkelindan: siapa memanfaatkan siapa, siapa subjek siapa objek, siapa penonton siapa penuntun, siapa dalang siapa wayang, dan siapa yang berkuasa menentukan agenda serta framing suatu peristiwa.
Perlu kita sadari, bermedia sosial tidak sepenuhnya negatif. Banyak hal positif bisa diambil. Yang kita perlukan hanyalah menahan diri ketika tergoda ikut-ikutan, dan berani bersuara ketika melihat kemungkaran. Literasi hukum dalam bermedia sosial memang penting, namun pemahamannya harus disertai pembacaan kritis agar kita tidak menjadi pribadi yang takut bersuara di ruang digital.
Dalam kehidupan berbangsa dan beragama, berkonten setidaknya harus menghindari prasangka, terutama yang menyangkut ras, suku, dan agama. Sebab keterjebakan pada prasangka, baik disengaja maupun tidak, dapat menghambat kemajuan peradaban.
Keterjebakan kita pada kondisi pascakebenaran yang hanya memantik emosi, sensasi, dan fiksi. Terutama terkait isu suku, ras, dan agama. Isu-isu ini harus diatasi dengan landasan pengetahuan kebudayaan.
Hanya dengan memahami budaya, kita mampu memperkuat penalaran terhadap pengetahuan yang disampaikan kepada masyarakat. Jika teori kebudayaan sudah dipahami, akan muncul pertanyaan-pertanyaan kritis dari premis-premis yang ada: tentang tragedi budaya, prahara budaya, dan kekerasan budaya. Semua itu diperlukan untuk menjawab persoalan politik identitas, sentimen agama, dan budaya populer yang sarat emosi serta dijejali oleh gelombang viralitas yang beracun.
Foto cover: Ilustrasi otak “Moral 404 Not Found”
Penulis: Mansurni Abadi
Penyunting: I Made Indra Cipta Widhiastra

Leave a Reply