Gianyar, Bali — Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) Universitas Udayana tahun 2026 resmi dimulai melalui kegiatan pembukaan yang dilaksanakan pada 11 Juni 2026 di Kantor Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Mengusung topik Desa Sehat, program ini menjadi langkah awal HME Universitas Udayana dalam menghadirkan pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan kesehatan, teknologi, lingkungan, serta potensi lokal Desa Batuan.
PPK Ormawa merupakan program yang dirancang untuk memperkuat kapasitas organisasi kemahasiswaan melalui keterlibatan langsung mahasiswa dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, HME Universitas Udayana mengerahkan 15 mahasiswa untuk menjalankan rangkaian program di Desa Batuan selama empat bulan, mulai Juni hingga September 2026.
Pembukaan kegiatan dihadiri oleh berbagai unsur dari perguruan tinggi, pemerintah desa, hingga mitra kesehatan. Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Teknik Universitas Udayana, Kepala Program Studi Teknik Elektro Universitas Udayana, Kepala Desa Batuan Ari Anggara, para kepala lingkungan dari banjar-banjar di Desa Batuan, mitra Puskesmas Sukawati I, serta perangkat Desa Batuan.

Kegiatan pembukaan diawali dengan sambutan dari pihak Fakultas Teknik dan Program Studi Teknik Elektro Universitas Udayana yang menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan PPK Ormawa HME 2026. Program yang dirancang mahasiswa dinilai menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan manfaat secara langsung bagi masyarakat.
“Kami dari perguruan tinggi, khususnya Fakultas Teknik dan Program Studi Teknik Elektro, sangat mendukung dan mengapresiasi program PPK yang adik-adik rancang dan akan segera dilaksanakan. Kami sangat mendukung program-program kemahasiswaan yang dapat memberikan manfaat nyata langsung kepada masyarakat, khususnya masyarakat Desa Batuan,” ungkap Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan Fakultas Teknik Universitas Udayana.

Dukungan juga disampaikan oleh Pemerintah Desa Batuan. Kepala Desa Batuan, Bapak Ari Anggara, menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Desa Batuan sebagai lokasi pelaksanaan PPK Ormawa HME 2026. Menurutnya, kehadiran mahasiswa melalui program pemberdayaan menjadi peluang bagi desa untuk berkolaborasi dalam menghadapi persoalan kesehatan yang tengah dihadapi masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung program PPK Ormawa HME dengan topik Desa Sehat di Batuan. Kami berterima kasih karena adik-adik mahasiswa dapat turut membantu kami dalam menyelesaikan permasalahan kesehatan yang saat ini terjadi di desa. Oleh karena itu, kami segenap jajaran pemerintahan desa menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan program PPK ini,” ujar Ari Anggara.

Dukungan tersebut kemudian ditandai dengan pembukaan secara simbolis yang dilakukan oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Teknik Universitas Udayana bersama Kepala Desa Batuan. Rangkaian seremoni juga diisi dengan pengalungan name tag kegiatan secara simbolis kepada perwakilan tim pelaksana PPK Ormawa HME 2026 sebagai tanda dimulainya pelaksanaan program di Desa Batuan.

Berangkat dari Persoalan Kesehatan Desa
Pemilihan Desa Batuan sebagai lokasi pelaksanaan PPK Ormawa tidak terlepas dari kondisi dan potensi yang dimiliki desa. Desa Batuan merupakan salah satu desa di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, yang dikenal dengan potensi seni dan budayanya serta keterlibatan masyarakat dalam sektor pariwisata. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 4,1 kilometer persegi dan secara administratif terdiri atas satu desa dinas, empat desa adat, dan 17 banjar dinas, dengan jumlah penduduk sebanyak 8.655 jiwa.
Di balik potensi tersebut, Desa Batuan juga menghadapi tantangan dalam bidang kesehatan. Berdasarkan data yang menjadi dasar penyusunan program PPK Ormawa HME 2026, terdapat peningkatan sejumlah penyakit pada periode 2024–2025, terutama hipertensi dan diabetes melitus. Selain itu, chikungunya menjadi salah satu persoalan kesehatan yang mendapat perhatian, khususnya dikarenakan rentan terjadi pada musim penghujan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Tim Pelaksana PPK Ormawa HME Universitas Udayana mengusung topik Desa Sehat. Program yang dirancang tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penyakit, tetapi juga mendorong perubahan perilaku, pencegahan, pengelolaan lingkungan, pemanfaatan potensi desa, serta penggunaan teknologi untuk mendukung kesehatan masyarakat.
Sebelum merancang program, tim PPK Ormawa HME terlebih dahulu melakukan survei dan observasi di Desa Batuan. Proses tersebut menjadi dasar bagi mahasiswa untuk memahami kondisi kesehatan serta kebutuhan masyarakat secara lebih langsung. Dalam sub proposal program, survei yang dilakukan oleh ormawa juga melibatkan ratusan responden untuk memperoleh gambaran mengenai perilaku dan gaya hidup masyarakat Desa Batuan.
AROGYA sebagai Langkah Pemberdayaan
Dari proses identifikasi tersebut, HME Universitas Udayana menginisiasikan program AROGYA: “Revitalisasi Usada Bali dan Tri Hita Karana dalam Pemberdayaan Masyarakat Batuan Menuju Desa Sehat Berkelanjutan.”
AROGYA dirancang sebagai program pemberdayaan masyarakat yang menggabungkan pendekatan preventif, kearifan lokal Bali, teknologi tepat guna, pengelolaan lingkungan, dan pengembangan potensi ekonomi masyarakat. Konsep tersebut menjadi upaya untuk membangun kesadaran kesehatan dari tingkat keluarga hingga masyarakat desa secara lebih berkelanjutan.
Secara garis besar, rancangan AROGYA langsung dipaparkan kepada para peserta dan pemangku kepentingan pada rangkaian acara setelah seremoni pembukaan selesai dilaksanakan. Pemaparan tersebut menjadi kesempatan bagi tim PPK Ormawa HME untuk memperkenalkan arah program, kegiatan yang akan dilakukan, serta bentuk keterlibatan masyarakat selama empat bulan pelaksanaan.
Salah satu program utama yang diperkenalkan adalah LENTERA SEHAT (Layanan Edukasi dan Transformasi Perilaku Sehat). Program ini berfokus pada edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pencegahan penyakit, pola konsumsi sehat, serta aktivitas fisik. Edukasi dirancang untuk menjangkau masyarakat dari berbagai kelompok usia.
Selain edukasi, AROGYA juga membawa pendekatan digital melalui SIMBA SEHAT (Sistem Informasi Monitoring Batuan Sehat). Sistem ini dirancang untuk mendukung proses pencatatan dan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat secara lebih terintegrasi sehingga data kesehatan dapat menjadi bagian dari proses evaluasi program desa sehat.
Di bidang lingkungan dan pemanfaatan potensi lokal, program AROGYA mengembangkan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Pemanfaatan pekarangan rumah diarahkan tidak hanya sebagai ruang budidaya tanaman obat, tetapi juga sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit berbasis lingkungan.
Pengembangan TOGA tersebut kemudian dipadukan dengan teknologi VERTIGA (Vertikal IoT TOGA), yaitu inovasi teknologi yang dirancang untuk mendukung budidaya TOGA melalui sistem penyiraman otomatis. Kehadiran teknologi ini menjadi salah satu bentuk penerapan keilmuan mahasiswa Teknik Elektro dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Program juga diarahkan melalui Griya Arogya, yaitu upaya membangun rumah yang mendukung pencegahan penyakit melalui pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan pekarangan. Dengan pendekatan tersebut, kesehatan tidak hanya dipandang sebagai persoalan pelayanan medis, tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan masyarakat dan kondisi lingkungan tempat tinggal.
Menghubungkan Teknologi dengan Kearifan Lokal
Salah satu karakter utama AROGYA adalah upaya menghubungkan perkembangan teknologi dengan kearifan lokal Bali. Program ini menggunakan konsep Tri Hita Karana sebagai salah satu landasan pemberdayaan masyarakat, yang mencakup hubungan manusia dengan Tuhan melalui aspek Parahyangan, hubungan manusia dengan sesama melalui Pawongan, serta hubungan manusia dengan lingkungan melalui Palemahan.
Pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan, penguatan partisipasi masyarakat, pemanfaatan TOGA, dan pengelolaan lingkungan.
Di sisi lain, unsur Usada Bali juga menjadi bagian dari identitas program. Dalam rancangan AROGYA, kearifan lokal yang bersumber dari Lontar Usada Bali dan Taru Pramana menjadi salah satu acuan dalam pemilihan tanaman obat yang dikembangkan dalam program.
Dengan demikian, AROGYA berupaya mempertemukan dua pendekatan yang berbeda: teknologi yang menjadi bidang keilmuan mahasiswa Teknik Elektro dan pengetahuan lokal yang telah berkembang dalam kehidupan masyarakat Bali.
Mendapat Dukungan Pemerintah Desa
Pelaksanaan program ini turut mendapatkan dukungan dari perangkat Desa Batuan. Para kepala lingkungan banjar di Desa Batuan menyambut baik kehadiran PPK Ormawa HME 2026 dan telah menyampaikan informasi mengenai program kepada masyarakat di wilayah masing-masing.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendorong masyarakat agar mengetahui keberadaan program sekaligus membuka ruang partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan pemberdayaan yang akan dilaksanakan oleh tim PPK Ormawa HME 2026.
Bagi tim pelaksana, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari keberhasilan AROGYA. Program tidak dirancang sebagai kegiatan yang hanya dilakukan mahasiswa, tetapi sebagai proses kolaborasi yang melibatkan masyarakat, pemerintah desa, perguruan tinggi, serta mitra kesehatan.
Empat Bulan untuk Membangun Fondasi Desa Sehat
PPK Ormawa HME 2026 di Desa Batuan dijadwalkan berlangsung selama empat bulan, mulai Juni hingga September 2026. Saat berita ini diterbitkan, program telah memasuki bulan ketiga pelaksanaan.
Selama periode tersebut, tim PPK Ormawa HME terus menjalankan rangkaian kegiatan yang telah dirancang bersama masyarakat dan Pemerintah Desa Batuan. Berbagai program diarahkan untuk membangun fondasi desa sehat melalui peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku, pemanfaatan teknologi, pengelolaan lingkungan, serta pengembangan potensi TOGA.
Program AROGYA sendiri dirancang dengan perspektif keberlanjutan. Dalam roadmap program, pelaksanaan tahun 2026 menjadi tahap fondasi yang kemudian diarahkan pada penguatan program dan ekonomi pada 2027 serta kemandirian dan replikasi program pada 2028.
Dengan dimulainya PPK Ormawa HME 2026 pada 11 Juni 2026, langkah kolaborasi antara mahasiswa Universitas Udayana dan masyarakat Desa Batuan secara resmi dimulai. Bagi HME, program ini tidak hanya menjadi bagian dari pelaksanaan PPK Ormawa, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang dimiliki sekaligus belajar memahami kebutuhan masyarakat secara langsung.
Sementara bagi Desa Batuan, kehadiran AROGYA diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat upaya pencegahan penyakit, meningkatkan kesadaran hidup sehat, mengoptimalkan potensi lingkungan dan TOGA, serta membangun sistem kesehatan desa yang dapat terus dikembangkan bersama masyarakat.

Leave a Reply