Suara Tembang “Arja” Yang Mulai Meredup

Arja bukan hanya sekadar sebuah kesenian. Arja adalah cerita, suara, dan jiwa Bali yang dilantunkan lewat tembang, gerakan, dan busana penuh makna. Namun di era digital ini, terlontar sebuah pertanyaan untuk generasi saat ini. Apakah masih ada yang tahu apa itu Arja?

Arja adalah opera khas dari Pulau Dewata, Bali. Arja merupakan sebuah dramatari yang dialognya ditembangkan secara macapat. Dramatari ini adalah salah satu kesenian yang dulunya sangat digemari di kalangan masyarakat. Namun belakangan ini, Arja mengalami penurunan minat dari generasi muda.

Penurunan minat terhadap Arja disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya adalah perubahan zaman. Generasi muda kini lebih akrab dengan hiburan digital, konten cepat, dan bahasa yang lebih santai. Arja, dengan Basa Bali Alus dan durasi panjang, dianggap kurang menarik atau terlalu sulit untuk dinikmati.

Selain itu, regenerasi dari seniman Arja berjalan lambat. Tidak banyak anak muda yang mau belajar tembang, apalagi tampil di panggung dengan tata rias dan kostum yang rumit. Padahal di balik semua itu, Arja menyimpan nilai seni, sastra, dan etika yang tinggi.

Arsip PKB 2024 I Putu Gede Yoga Pratyusa Adnyana

Menanggapi hal ini, banyak komunitas, sanggar, dan kampus seni yang berusaha menghidupkan kembali Arja dengan pendekatan baru. Beberapa mencoba mengadaptasi cerita, membuat pementasan lebih singkat, mengunggah pertunjukan ke media sosial agar bisa diakses oleh generasi sekarang. Bahkan ada juga yang mencoba mengangkat isu-isu viral di media sosial dan menyelipkan bahasa Gen Z dalam dialognya, supaya anak muda mulai tertarik dengan Arja.

Suara tembang Arja memang mulai meredup. Tapi jika ada kemauan untuk beradaptasi dan peduli, suara itu bisa kembali didengar. Tidak harus persis seperti dulu, tapi cukup untuk membuat kita ingat esensi dari kesenian ini masih hidup dan layak dijaga eksistensinya. Karena sejatinya, “taksu tan bisa kucit,” yang mana roh seni seperti Arja tidak akan benar-benar hilang selama kita masih percaya dan merawatnya.

Foto cover: Arsip PKB 2024 I Putu Gede Yoga Pratyusa Adnyana
Penulis kontributor: I Putu Gede Yoga Pratyusa Adnyana
Penyunting: I Made Indra Cipta Widhiastra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *