Remaja Bali Jadi Pelaku Bully?

Secara sederhana, bully adalah tindakan menyakiti orang lain secara sengaja, baik secara fisik, verbal, maupun psikologis, dan biasanya dilakukan berulang-ulang oleh seseorang atau sekelompok orang yang merasa lebih kuat atau berkuasa. 

Bullying kini menjadi aktivitas yang sangat sering kita jumpai terutama di lingkungan pergaulan remaja. Salah satu contoh kasus yang viral baru-baru ini, yaitu aksi perundungan yang dilakukan oleh beberapa siswa salah satu SMK Negeri di Denpasar.

Tangkapan layar dari video aksi perundungan yang dilakukan oleh beberapa siswa salah satu SMK Negeri di Denpasar. Sumber: Instagram @aryawedakarna

Pada video yang diposting oleh anggota DPR RI Shri Gusti Arya Wedakarna menyoroti aksi perundungan yang dilakukan oleh sesama siswa SMKN 7 Denpasar. Pada video tersebut terlihat aksi perundungan atau bullying dilakukan secara fisik dan dilakukan tidak hanya oleh satu orang saja. Kejadian ini tentu menuai tanggapan yang beragam dari masyarakat. 

Apa yang menjadi sorotan utama pada permasalahan ini?

Lingkungan pergaulan menjadi sorotan utama pada permasalahan ini. Kini hampir di tiap tiap sekolah terdapat komunitas atau “geng” yang menjadi wadah perkumpulan dan pergaulan para siswanya. Geng ini berpotensi menjadi lingkungan pergaulan yang tidak sehat apabila tidak mendapatkan arahan yang baik dari pihak sekolah.

Walaupun sebenarnya sekolah tidak menaungi secara resmi komunitas para siswa tersebut, namun secara tidak langsung, terkadang nama geng akan disangkut pautkan dengan nama sekolah para siswa anggota geng tersebut.  Selain itu, pengawasan orang tua terhadap pergaulan anak mereka turut serta menjadi perhatian seksama. Seharusnya orang tua lah yang menjadi pengawas pertama terhadap tingkah laku dan pergaulan anak remaja. 

Menyoroti permasalahan tersebut, hal ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah terutama dinas pendidikan baik kota Denpasar maupun Provinsi Bali. Harus ada regulasi atau tindakan tegas yang mengatur mengenai tindakan bullying yang dilakukan oleh anak di bawah umur. Mengingat efek dari aksi bullying yang tidak hanya meninggalkan luka fisik, namun juga berpengaruh terhadap psikis dan mental dari korban aksi bullying tersebut. Hal ini tentunya menjadi perhatian bagi kita semua agar generasi muda Bali tidak menjadi pelaku bully.

Menurut Semeton, bagaimana seharusnya pemerintah menyikapi permasalahan ini?

Foto cover: Ilustrasi dari AI
Penulis kontributor: I Made Jaya Wiguna
Penyunting: I Made Indra Cipta Widhiastra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *