Seni Lestari, Namun Sampah Masih Berserakan

Pesta Kesenian Bali 2025 kembali menjadi panggung gemilang bagi kreativitas lokal. Gong dibunyikan, kain-kain prada berkibar, dan wajah-wajah muda bersolek dalam semangat menjaga warisan leluhur. Namun di balik keindahan tari, musik, dan ukiran, ada satu pemandangan yang tetap saja tak berubah dari tahun ke tahun, sampah di mana-mana.

Plastik minuman menumpuk di bawah bangku. Tusuk sate berserakan di selasar Wantilan. Bungkus makanan tercecer, seolah panggung budaya ini tak cukup sakral untuk dihormati. Ketika sendratari yang penuh nilai filosofis dipentaskan, tak lama kemudian sisa kopi kemasan dibuang begitu saja ke tanah. Ironis? Lebih dari itu, menyedihkan.

Lalu muncul pertanyaan tentang siapa yang patut disalahkan? Panitia? Petugas kebersihan? Pemerintah? Atau justru masyarakat sendiri yang lupa bahwa menghargai seni tak hanya tentang tepuk tangan, tetapi juga soal menjaga ruang dimana seni itu tumbuh?

Budaya tidak berhenti pada tarian atau kidung. Budaya hidup dalam keseharian, dalam cara berjalan, bersikap, dan menjaga lingkungan. Menyebut diri sebagai pewaris budaya tanpa kesadaran perilaku hanyalah warisan setengah hati. Merayakan seni tanpa peduli pada kebersihan ruang pertunjukan adalah bentuk penghormatan yang pincang.

Seni bukan benda mati, tetapi seni berdenyut dalam kesadaran kolektif. Jika warisan leluhur dianggap berharga, langkah paling dasar adalah tidak meninggalkan jejak baru yang merusaknya, yaitu jejak bernama sampah.

Bageh jani pangumbahan, sinah sinung sang sane ngemargiang. Sekaranglah waktunya membersihkan, bukan hanya menunjuk mereka yang bertugas. 

Foto cover: Dokumentasi Balinggih PKB 2025
Penulis kontributor: I Putu Gede Yoga Pratyusa Adnyana
Penyunting: I Made Indra Cipta Widhiastra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *